Langsung ke konten utama

Terapi obat kombinasi HIV aman dan efektif pada anak-anak

Menurut laporan dalam jurnal The Pediatric Infectious Disease, Mei 2008, penanganan terapi obat anti HIV kombinasi yang menyertakan obat dari kelas yang dikenal sebagai inhibitor protease itu aman dan efektif untuk penggunaan jangka panjang pada anak-anak terinfeksi HIV yang sebelumnya diobati.

Dr. Chistoph Rudin mengatakan bahwa efek terapi yang dicapai dalam uji klinis akan menjadi nyata dalam situasi nyata. Kepatuhan merupakan isu yang paling penting ketika pasien memulai pengobatan karena regimen pertama tampaknya untuk mencapai hasil yang lebih baik dibandingkan penanganan selanjutnya.

Rudin dan koleganya dari University Children's Hospital, Switzerland mengevaluasi keamanan, tolerabilitas dan efektivitas kombinasi obat yang menyertakan satu atau lebih inhibitor protease (ritonavir, nelfinavir dan lopinavir/ritonafir) pada 133 anak terinfeksi HIV yang sebelumnya diberikan obat anti HIV. Anak-anak juga diberikan paling sedikit satu bahan obat kelas inhibitor nucleoside reverse transcriptase seperti zidovudine atau lamivudine.

Pengurangan kadar virus dalam darah rata-rata dan peningkatan kadar CD4T dalam darah rata-rata secara bermakna, sel-sel darah putih menurun saat infeksi meningkat, seperti terlihat antara 4 minggu setelah mulai penanganan dengan ritonavir, nelfinavir atau lopinavir/ritonavir. Perbaikan ini bertahan sampai minggu ke-48.

Menurut peneliti, hanya satu yang masuk rumah sakit (mengalami pankreatitis pada 180 hari pertama penggunaan ritonavir) yang dipertimbangkan berkaitan dengan penanganan inhibitor protease. Efek samping lain hampir sama untuk ketiga kombinasi penanganan.

Ini merupakan pengalaman pertama para peneliti dengan regimen obat anti HIV berbasis protease di Switzerland. Bukti kecil ini masih relevan, khususnya berkaitan dengan isu keamanan, karena saat ini kebanyakan anak-anak akan ditangani dengan inhibitor protease baru yang di-booster ritonavir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ASI bisa membuat anak tidak mudah menjadi gemuk

Sebuah studi mengemukakan bahwa anak-anak yang diberi ASI akan lebih sedikit mengalami overweight dibandingkan diberikan susu botol. Kebanyakan manfaat tersebut berhubungan dengan lebih sedikit berat yang didapat saat bayi. Para peneliti dari Belanda menemukan bahwa diantara lebih dari 2.300 anak-anak yang diamati sejak lahir sampai umur 7 tahun, mereka yang diberi ASI lebih dari 16 minggu, umumnya mempunyai Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih rendah pada umur 1 tahun. Anak-anak ini mempunyai rata-rata IMT lebih rendah dan memiliki kecenderungan lebih kecil menjadi overweight pada umur 7 tahun dibandingkan anak-anak yang menyusui dari botol. Namun demikian, bila peneliti mempertimbangkan faktor lain seperti IMT pada umur 1 tahun, hubungan antara menyusui ASI dengan masa anak-anak menjadi hilang. Temuan yang saling bertentangan pada sejumlah studi, untuk menyelidiki apakah menyusui ASI berdampak pada berat masa anak-anak. Laporan terabru menyarankan bahwa menyusui ASI memberikan efek l...

9 Golongan Berisiko Osteoporosis

Info kesehatan ini diambil dari situs Perhimpunan Dokter Paru Indonesia yang mengambil dari Kompas, 24 Oktober 2008. Mudah-mudahan berguna bagi para pembaca blog Sahabat Sehat . Osteoporosis adalah suatu kondisi berkurangnya massa tulang secara nyata yang berakibat pada rendahnya kepadatan tulang. Osteoporosis merupakan penyakit yang datang diam-diam. Siapa saja yang berisiko berisiko tinggi terhadap osteoporosis? Berikut ini sembilan golongan yang termasuk berisiko tinggi mengalami keropos tulang. 1. Penderita Hiperparatiroid Meskipun rendah persentase kejadiannya, hormon paratiroid yang terletak di leher depan kita berdekatan dengan kelenjar tiroid, dapat mengalami keganasan atau tumor. Pada situasi ini, jumlah hormon yang beredar di dalam tubuh akan meningkat. Padahal, seperti kita ketahui, hormon ini sangat erat hubungannya dengan sel osteoclast dalam tulang. Akibatnya, sel-sel osteoclast akan mengalami peningkatan aktivitas. Akan lebih banyak senyawa kalsium yang diamb...

Vaksin Pertusis tidak Berhubungan dengan Peningkatan Risiko Asma pada Masa Anak-anak

Disamping adanya dokumentasi mengenai keuntungan vaksinasi rutin pada masa anak-anak dalam bidang kesehatan masyarakat, terdapat sebagian kecil populasi yang menderita penyakit yang dapat dicegah oleh pemberian vaksinasi. Ketakutan mengenai keamanan vaksin merupakan alasan yang paling sering dikemukakan oleh para orang tua yang menolak pemberian vaksinasi. Hal penting yang harus diperhatikan terkait dengan kemungkinan hubungan antara vaksinasi rutin dengan risiko asma. Baca selanjutnya...